Rabu, 04 Agustus 2010

Pendidikan dan Seragam

Hakekat pendidikan ditujukan untuk menghantarkan para siswa menuju pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu tercermin baik dari segi intelek, moral maupun hubungannya dengan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa dalam lingkungan sekolah akan dibimbing dan diarahkan oleh guru dan siswa berperan aktif.
Beragam "prestasi buruk" selama ini menghadapkan pendidikan pada pertanyaan mendasar tetapi sangat fundamental: sejauh mana efektivitas pendidikan bagi peningkatan kualitas siswa, seberapa efektif pemilihan akar masalah dan upaya peningkatan mutu / kualitas pendidikan. Seragam sekolah dan termasuk penyeragaman model pendidikan hanya merujuk pada aspek sekolah mencari “ mudahnya “ saja.
Pendidikan dasar, menengah dan Pendidikan tinggi merujuk pada semangat ada perbedaan mendasar pola pembelajaran dan pendekatan yang harus dilakukan sekolah kepada peserta didik. Siswa pendidikan dasar harus dikelola dengan pendekatan cenderung pedagogik, semakin ke pendidikan tinggi semakin andragogik.



Pendidikan orang dewasa
Pendekatan pendidikan andragogik merupakan pola pendekatan pendidikan orang dewasa, atau menuju transisi kedewasaan. Oleh sebab itu itu pendekatan harus menggunakan model pembelajaran yang mengarahkan, guru sebagai mitra belajar, sekolah sebagai fasilitator pembelajaran dan tidak menekankan pembelajaran yang kaku, ketat pada aspek kurikulum, kaku terhadap disiplin dan sebagainya.
Ada dan keberadaan seragam sekolah sesungguhnya merupakan konsekuensi langsung dari model pendekatan yang dipilih. Artinya jika sekolah sampai SMU/SMK masih dipaksa memakai seragam artinya sekolah “ belum siap “ menerapkan model pembelajaran orang dewasa. Padahal konsep belajar CBSA, KTSP, dan beragam kurikulum model baru menuntut pendekatan pendidikan orang dewasa. Hal ini juga menunjukan bahwa para pengampu kebijakan masih berorientasi pada kesaragaman pola berfikir masa lampau, yang merugikan siswa anak didik yang akan hidup dimasa yang akan datang.
Jika menggunakan pendekatan pendidikan orang dewasa, maka menurut perkembangan psikologi anak di Indonesia, penggunaan seragam hanya cocok untuk anak usia SD, sedangkan mulai SMP mulai dikurangi, SMA tidak perlu seragam, apalagi pendidikan tinggi.
Lembaga pendidikan dalam melakukan perumusan tujuan pembelajaran harus berorientasi pada kepentingan siswa, dengan bertitik tolak pada perubahan tingkah laku. Namun orientasi pembelajaran saat ini masih berorientasi pada guru sebagai pusat dari pembelajaran dan sekolah sebagai penentu kebijakan dan “ keharusan “. Rendahnya relasi antara siswa, orang tua siswa dan sekolah dalam menentukan apa yang terbaik bagi siswa dan pendidikan lebih disebabkan unsur penyeragaman sekolah. Jadi seragam sekolah hanyalah merupakan ekses semata dari model pembelajaran yang dipilihn oleh sekolah dan relasinya dengan kebijakan pemerintah.
Aspek yang menakutkan dari sistem pendidikan sekolah model demikian adalah tidak hanya keseragaan pada seragam sekolah, keseragaman cara mengajar guru, keseragaman tindakan kepala sekolah dan keseragaman kebijakan. Yang menakutkan justru out put dan dampak hasil belajar yakni menjadi lulusan sekolah memiliki tingkah laku dan pola pikir yang seragam. Semua lulusan akan cenderung berfikir yang terlalu linier dan mudah ditebak. Konsep pembelajaran sudah pasti “ cenderung “ membrangus aspek – aspek pembeda, potensi kreatif, dan menyulitkan pemikiran baru siswa, lemahnya inovasi dan siswa hanya memiliki keahlian meniru hasil belajar, yang tragisnya “ berbentuk seragam “. Karena model keseragaman yang ada di Indonesia sudah sangat “ parah “ dalam menentukan masa depan siswa.

Seragam dan Pendidikan kharakter
Perilaku siswa yang tidak berseragam dianggap tidak terbentuk disiplin yang memadai, ketidak patuhan pada kebijakan sekolah, kekurang ajaran, dan beragam “ kesalahan “ argumentasi yang juga pasti “ seragam “.
Negara sedang mengembangkan konsep pendidikan karakter sebagai salah satu model untuk menjawab kelemahan out put pendidikan yang terlalu mengedepankan aspek afektif dan kognitif. Pendidikan juga terlalu science minded. Ada siswa SMU yang setiap minggunya harus belajar matematika 10 jam dan fisika masing-masing 10 jam pelajaran. Seolah-olah matematika dan fisika merupakan satu-satunya jawaban dari persoalan hidup manusia. Jarang sekali ada sekolah yang mengembangkan pembelajaran sesuai potensi, minat, dan bakat siswa seperti olah raga atau musik, misalnya. Akibat kurikulum yang terlalu berat menjadikan sekolah sebagai "stressor baru" bagi siswa. Disebut "baru" karena siswa sebenarnya sudah sangat tertekan akibat berbagai persoalan keluarga dan masyarakat (termasuk pengangguran dan kemiskinan).
Pendidikan karakter dianggap solusi alternatif sistem pendidikan, namun jika dilihat dalam pra implementasi dan rancangan implementasinya masih menempatkan orentasi yang sama, hanya plus kharakter. Artinya memaksakan siswa berseragam dan dengan pola pendidikan berseragam menghasilkan lulusan berkharakter. Ini jelas tidak banyak membawa perubahan apapun selain memberikan tambahan beban kepada siswa. Pendidikan karakter menuntut implementasi pendidikan orang dewasa yang lebih kongkrit dan mulai meninggalkan hal-hal yang berhubungan dengan seragam dan keseragaman baik model dan pola berfikir serta tingkah laku yang dihasilkan.
Artinya kalau boleh berkata jujur, seragam hanya lah puncak gunung es dari keseragaman pola pendidikan di Indonesia dan hebatnya diantara ketidak konsistensinya model pembelajaran yang dipilih, seragam dan keseragaman ini selalu menjadi pilihan utama. Dengan demikian masih banyak perubahan yang harus dilakukan oleh sekolah dan pemerintah untuk menghasilkan model pembelajaran yang cocok dalam membidik « masa depan « siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar